Minggu, 19 April 2015

Allah the director of my life...

Selamat pagi...

sebelum kerja dan sebelum lupa maka harus ditulis lah ini bahan tulisan ...
at last weekend ... suddenly, it just come and fullloaded my mind.. something that i thought were present to raise my spirit, way to understand the plan that God has planned to me... :) ...

selama sebulan ini memulai pekerjaan tambahan baru ini, saya sangat bersemangat. Isi kepala yang hampir penuh dan semangat untuk beraktivitas dan berkarya akhirnya tertumpah ruah ..( halah.. bahasanyaaa :D )

tapi, seketika ketika semangat itu belum memudar saya membawanya kerumah, akhirnya sebulan mengevaluasi saya baru tersadar, saya kurang memperhatikan mereka (read: my lovely children) karena saya terlalu sibuk berkutat dengan apa yang sedang saya kerjakan dikantor. saya terlalu tamak karena hanya memperhatikan keinginan diri sendiri. betapa naifnya saya yang setua ini hanya memikirkan diri sendiri, padahal hidup mereka akan lebih lama dari saya, dan sebagai ibunya adalah kewajiban saya mengawalnya untuk mengadapi hidup dengan baik. belajar dari pengalaman .. saya akhirnya merenung dan menangis.
saya sangat bersyukur karena Allah masih memberikan saya "sense" untuk menyadari ini semuaaaa...
sesaat saya berfikir, dan terlintas kenapa Allah menunjuk saya untuk melakukan ini semua.. lantas beberapa saat kemudian  alhamdulillah masih terucap Ishtighfar setelahnyaaaa..

sekilas mereview.. ketika saya selesai kuliah s2, tidak sedikit saya mendengar cibiran orang.
saya mendengar mereka mencibur:  "suami yang menyekolahkan saya tinggi2 tapi percuma saja tidak bekerja kesannya saya hanya menghamburkan uang suami .. sia-sia.."
baik saya tampung..
lain lagi saya mendengar .. "ketidakmampuan saya mungkin yang membuat saya belum mendapat kerjaan.."
lagi-lagi saya menyimak..
lain lagi saya mendengar .. "saya hanya pemalas yang sudah keenakan menikmati uang suami yang seorang dokter.."
hahaha... baiklah .. itu semua saya tampung , saya simak, dan saya klarifikasi :P

bagi orang yang belum mengenal saya, bisa saja mereka mengatakan hal tersebut karena mereka menyamakan diri saya dengan mereka sendiri, dengan kata lain, mereka mengatakan hal tersebut karena itulah yang mereka alami. but, sorry to say.. it just a pie in the sky ...

 to noted:  saya tidak menggunakan pembantu selepas saya kuliah, saya mengurus anak-anak dengan tangan sendiri, saya kawal hapalan mereka, saya memasak dan mengurus anak-anak serta suami dengan tangan sendiri.. saya mengeluh tentu saja, ketika saya lelah dan harus mendengar cibiran-cibiran itu..
saya juga salah satu peraih beasiswa saat terakhir kuliah, saya juga punya ipk alamdulillah.. kalau saja aturan universitas saya seperti "universitas" kota kecil yang saya tempati, saya pastilah sudah "cum laude" .. tapi pertanyaannya apa gunanya untuk saya? perkataan orang? simpati orang? apa itu akan menambah pahala saya sebagai tabungan akhirat kelak? ga kan .. jadi untuk orang-orang yang pastilah jauh lebih buruk dari saya dan orang-orang yang mungkin iri dengan kehidupan yang saya jalani ini... you must be cry over spilled milk that's the exact reason to described that you're envy to me *sarkasm* :p ....

sejak saya memutuskan bekerja, suami berada di belakang saya. saya tidak akan pernah berani mengambil keputusan tanpanya. karena saat ini saya adalah miliknya, saya istri sahnya yang kewajiban saya memuliakannya, menaatinya. no offense. saya daftar dan tes sampai ke tahap akhir tanpa bualan. saya adalah saya . karena pekerjaan ini adalah impian saya, tepatnya my big dream. saya rasa ini juga salah satu cara saya mengenalkan anak-anak kegigihan, belajar, tidak hanya sebagai penghias bibir dalam nasihat. saya ingin turun langsung, saya ingin anak-anak saya hanya mengidolakan Rasulnya dan orang tuanya. bukan orang lain yang masih meraba-raba seperti apa aslinya mereka ... Just it. Simple way to think.

saya juga melibatkan Allah dalam urusan ini. saya meminta pada Allah yang terbaik, karena hanya Allah yang tahu kemampuan saya, bukan mereka yang mencibir atau pun yang memuji saya dengan hunusan pedang. saya bertanya pada diri sendiri sebelum saya mengambil keputusan. mendaftar ulang atau tidak, bertanya pada suami.. dan tentu saja pada Allah. ingatkan saya bahwa saya meminta yang "TERBAIK" bukan minta "LULUS". dan akhirnya disinilah saya. menjalani 3 pekerjaan sekaligus, sebagai istri, ibu, dan peneliti sebagai realisasi impian saya. awalnya saya menyunggingkan senyum pada orang-orang yang mencibir ketika bertemu langsung. tapi, lantas saya mengacuhkan mereka. mereka tidak penting untuk saya.
saya sekarang hanya berusaha untuk husnudzon pada ketetapan Nya. walaupun sangat sulit untuk dijalani tapi saya yakin Allah punya rencana terbaik untuk saya :)

saat ini saya sedang sangat bersemangat melakukan 3 pekerjaan mulia ini. on fire banget deh...
bismillah.. semoga ini seterusnyaa...

Ana Uhibbukum Fillah.. keluarga kecilku :*