Senin, 16 Agustus 2021

Roller coaster PhD and Life Journey

Sudah hampir 2 tahun ga posting apapun di blog sendiri. Ini dokumentasi kehidupan saya.. tulisan kehidupan yang saya jalani dan alami.
Semakin tua yang pasti. Umur di tahun ini adalah 37. Begitu banyak cerita setelah tiga tahun berada di negeri orang dengan emosi yang up and down, mengelola iman, rasa dan emosi yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata...

Tidak Ikhlas... Ini adalah masalah saya. Saya kurang ikhlas melepas anak-anak tanpa asuhan saya, melewatkan momen tiap harinya, melihat rekahan senyum mereka saat saya apresiasi, melihat tangisan mereka saat saya marahi pastinya karena ada salah. Saya sadar betul, saya adalah Ibu, Ibu yang tidak bisa jauh dari anak. Tanpa mereka secara langsung di depan mata, membuat emosi saya tidak stabil. Begitu juga pikiran-pikiran saya.

What a pity of me.

Ya Allah...kalau boleh menimbang dan memutuskan. Ini adalah ujian hidup saya yang paling berat :( . Saya tahu semua orang akan berkata: `'bersyukur!" ... betul. saya tidak akan me-encounter itu. saya masih terus belajar untuk tetap menjadi dewasa. saya memang tidak terlihat seperti seorang wanita yang berumur 37 tahun. penampilan, raut wajah dan attitudenya lah membuat kita menjadi begitu original. Tapi percayalah. beban hidup berbanding lurus dengan angka pada umur saya. TUA dan sangat COMPLICATED. 


Saya mengalami pukulan paling besar dalam hidup dan harus melepaskan apa yang telah saya dan anak-anak bangun. ketamakan dan nafsu seseorang menghancurkan segalanya dengan memanfaatkan segala kelemahan saya sebagai wanita, istri dan ibu. tidak ada lagi status sebagai ISTRI. saya adalah IBU mandiri atau dipaksa menjadi mandiri. saya dipaksa menjadi seorang IBU mandiri dan dipaksa melawan ketakutan saya sendiri sejak lama. be a divorcee...

Apakah saya menginginkan itu semua? tidak... saya sangat tidak menginginkan itu semua karenanya saya mmpertahankan 15 tahun pernikahan walaupun 9 tahun terakhir kepercayaan dan ketakutan saya dimanfaatkan oleh ayah anak-anak saya pada saya, ibu dari anak-anaknya. Hingga Talak 1 itu terucap darinya demi menutupi identitas si wanita bersuami berkedok cadar. what a shame. 

Mungkin bukan perselingkuhannya yang membuat saya marah atau kecewa. tapi, rendahnya saya diperlakukan atau dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengenal arti pengorbanan seorang istri dan pengabdian seorang istri pada suaminya. Bagi saya, itu adalah pelecehan sesungguhnya secara seksual. Saya yang berada dibelakangnya menyokong dan mendukung apapun yang ingin ia dapatkan dan raih, termasuk cita-cita dalam karirnya menjadi seorang Dokter Spesialis Orthopaedi. Ketika titel menjadi tujuan hidupnya, maka saya tidak sedikitpun muncul dalam benak menujukan PhD dalam sematan bersama nama saya. saya lebih bangga bisa mengantarkan anak-anak saya ke sekolah, menjadi guru biasa yang mungkin hanya dibayar 1 atau 2 juta sebagai aktualisasi diri saja. 

Tapi, terkadang hidup penuh dengan sejuta kejutan bukan? begitupun infidelity PTSD sebagai diagnosa yang saya sandang walaupun mati-matian saya denial, namun tubuh dan fikiran saya tidak bisa menafikkan ketika short of breath, shaking dan panic attack coming into me. 

sudah lah... saya intinya ingin bercerita bahwa PhD life saya sangat teramat roller coaster. 

tidak hanya ilmu di bidang saya tapi juga ilmu kehidupan, perih, pahit dan getir harus saya lalui. kalau mantan mertua saya... saya lebay... baiklah. terima kasih atas supportnya bahwa saya lebay menutupi aib 9 tahun lamanya demi mengedepankan keagungan anak kesayangnnya yang dia masih tidak percayai selama ini dan tetap seolah menyalahkan saya... karena saya memanjakannya, saya terlalu begini dan begitu. ahhh sudahlah... saya lelah dengan semua judgment orang-orang layak TUHAN. dengan hinaan nya tertuju ke saya. saya menangis dan teriak ternyata masih belum usai di hati saya... saya berdoa, bersimpuh dan bersujud juga masih ada disana... kekecewaan dan kemarahan... apalagi melihat anak-anak saya tumbuh kembang menjadi perlahan anak-anak yang membuat saya malu berkaca ... saya hanya mengira-ngira... tidakkah dia malu sebagai AYAH. bahwa dia sudah menodai nilai-nilai yang saya tanmkan dan dia sepakati sebagai kepala rumah tangga... saya hanya membayangkan... apa yang akan dikatakannya pada calon menantu anak perempuannya suatu hari nanti... lalu, akankah ia marah pada menantu laki-lakinya ketika anak perempuan nya diperlakukan sebagaimana dia memperlakukan ibu anak-anaknya... 

saya hanya makhluk sangat tidak sempurna, penuh kebodohan dan maafkan saya... atas semua yang saya lakukan dan ucapkan. 



with sincerely love, 

Feni

P.s: wish me luck with my PhD study and decide a correct person to be my next father of my children and my lifetime friend and partner in crime ^_* . Dunya is just a transit, isn't it?