Bath-England, 9th November 2024
Mulai detik ini, pengen rutin nulis di blog dan post paling ngga seminggu sekali. Ternyata banyak isi kepala yang pengen aku tuangkan dalam bentuk tulisan. banyak hal yang terjadi, pengalaman, dari sedih penuh air mata sampai secara otomatis berubah menjadi senyuman yang kemudian mengundang gelak tawa, paling ngga menertawakan diri sendiri.
amiinnn... moga istiqamah...
okay, jadi apakah topik cerita hari ini...
C I N T A 💔
kenapa dengan CINTA?
Inspirasi nya adalah karena besok adalah 10 November ... tanggal dan bulan paling bersejarah dalam hidup seorang Feni Amriani. 10 November 2005
kembali kebelakang pada tanggal itu... saya hanya seorang gadis berumur 21 tahun. Pagi itu, saya dijemput teman-teman dari rumah om untuk ke KUA Darul Imarah. teman-teman saya yang lain yang membantu saya membawakan 20 kotak kue untuk dibawa kesana. Saya masih ingat betul, om azwar lah yang memberikan uang Rp 200,000 untuk membelikan kue kotak untuk bbrp teman yang turut datang ke KUA untuk menyaksikan seorang laki-laki yang akan mengucapkan akad di depan wali hakim. Om dan bbrp keluarga akan menyusul dan menjemput saya setelah selesai akad nikah.
sungguh pernikahan yang sangat sederhana.
Manusia laki-laki itu bernama Rizky Julana. dia datang sendiri dan mengambil waktu di sela-sela waktu co-ass nya di Rumah Sakit.
Ibu yun, istri Om Azwar sedikit menangis malam sebelum hari itu.. dia berkata... sedih ngelihat feni, karena harus begitu cara nya menikah. sangat sederhana. padahal feni anak Jakarta, masih gadis, pintar, cantik... tapi, saya berkata: "ibu, feni ga pernah bahkan berharap ada laki-laki yang mau dan berani menikahi feni. feni sudah pasrah.. dan mungkin memang harus begini..." padahal di dalam hati saya menangis dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air mata. Pada keluarga di Aceh, saya menghias gambaran calon suami itu... saya katakan pada mereka, salut karena dia menabung dan bisa membelikan mahr... padahal didalam hati... saya mengingkari semua perkataan yang keluar dari mulut... sebenarnya adalah.. untuk membeli Mahr, saya memberikan uang yang seharusnya saya pergunakan untuk membeli seperangkat komputer. Lalu dia menggunakannya untuk mencari cincin saat dia dan temannya berkesempatan ke Medan untuk membeli buku dari uang hasil sumbangan tsunami untuk yayasan yang dia dan temannya inisiator yayasan itu... Al-Kahfi. Begitupun untuk seperangkat alat shalat, Mahr lainnya... saya yang membelikan dengan sisa uang --yang seharusnya untuk pembelian komputer itu--, di pasar aceh, lalu saya berikan padanya dan dia yang berpura-pura memberikan pada ibunya dan mengatakan bahwa itu semua dibeli dari tabungannya...
Ketika saya tiba di KUA, saya melihat sekeliling.. semua yang menikah hanya orang-orang tua atau orang-orang dari kampung, tapi setidaknya mereka, mempelai perempuannya, berhias... sedangkan saya hanya mengenakan abaya hari-hari yang baru saya cuci beberapa hari sebelumnya tanpa juga berhias. Saat jam nya, saya dan calon suami dipanggil, lalu saya melihat ibu mertua dan tantenya yang sedang hamil besar datang dan masuk dalam ruangan. seperangkat alat shalat dan cincin emas putih itu dipegangnya.. dan saya menyalami mereka saat saya bertemu mereka... entah apa dalam fikiran saya... campur aduk.. bagaimana dia ya.. sepertinya dia tidak terlalu bahagia dan bangga karena anaknya menikahi saya... tapi... apakah dia tahu apa yang sudah dilakukan anaknya? ... apakah saya akan menjadi menantu yang baik dan akan diterima dengan baik... saya salut dan kagum pada nya sebagai ibu... figur seorang ibu yang bertanggung jawab, tidak seperti ibu saya yang saat itu... saya bahkan tidak tahu dimana dia berada.. meninggalkan adik-adik saya dalam pelariannya dan hutang-hutang ... bahkan membuat adik saya terusir dari rumah kontrakan di cilegon... at least, pada saat itu, laki-laki itu bercerita bagaimana dia begitu bangga pada ibunya... dan saya pun yang mendengar itu turut bangga... karena saya tidak pernah merasa bangga pada figur ibu yang melahirkan saya... sebaliknya... saya harus berjuang sekuat tenaga mencari jati diri dan berusaha dalam sendiri...
merintih terkadang dalam tangisan... tapi saya selalu belajar untuk pasrah... bahwa memang beginilah jalan hidup saya... saya tidak pernah tidak bersyukur apa pun kesulitan saat itu.. justru saya menerima laki-laki itu karena saya ingin memiliki keluarga baru.. membangun keluarga baru yang sesuai dengan idealnya keluarga yang saya impikan... dalam balutan dan didikan agama bukan hanya sekedar pengesanan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. tapi sebenar-benarnya keluarga yang baik dan menghasilkan generasi-generasi terbaik.
saya ingin diterima di keluarganya dan dianggap anak, mendapatkan kasih sayang tulus dari seorang ibu yang saya tidak pernah merasakan dari perempuan yang melahirkan saya...
okeeee... kembali lagi ke hari itu... akad kemudian berjalan lancar, tidak sampai 5 menit saya sudah menjadi istri orang. saya bahagia pada hari itu... entah bagaimana saya mengungkapkannya.. semua teman-teman dan keluarga saya pun menitikkan air mata, entah bahagia, haru, atau kasihan...
Perasaan-perasaan itulah yang selalu hadir ketika tanggal 10 November datang setiap tahunnya... bagaimana pun badai menghantam.. saya selalu berusaha menghitung tanggal itu datang.. dan datang... dan berusaha sekuat tenaga untuk bisa setiap tahunnya menemui tanggal itu dan merasakan perasaan-perasaan itu.. bahagia, haru, rasa iba dari semua teman dan keluarga... bangga karena saya mampu membuat ibunya bangga bahwa anak laki-lakinya terkesan "mampu" menikahi seorang gadis dengan mahr yang diusahakannya sendiri ... dsb...
tidak pun dalam fikiran.. saya akan diberikan mahr yang sebenarnya di setiap tanggal itu datang dan memang itu tidak pernah terjadi. dia mungkin sudah cukup merasa bangga dan cukup dengan bualan ke semua orang usaha dan kegigihaannya yang semu untuk menikahi gadis seperti saya. atau mungkin di fikirannya.. memang saya hanya seharga itu, karenanya dia tidak pernah punya inisiatif ketika tanggal ini datang di setiap tahunnya...
However... saya tidak apa2... semua terselimuti dengan "haram merayakan anniversary!"...
tapi... ketika untuk perempuan lain.. dia mungkin bisa menawarkan seisi dunia... entah apa yang sudah perempuan lain itu berikan padanya...
ahhh... sudahlah... saya saja yang bodoh.. mencintai sendiri dan sakit sendiri karena berfikir saya dicintai..
Setiap kali ada lelaki yang ingin menikahi saya.. saya selalu bilang.. bisakah kamu menikahi di tanggal 10 Nov? karena saya sangat ingin melupakan apa yang terjadi dengan segala perasaannya dan menimpa dengan perasaan baru sehingga sakit saya terkikis...
Saya pernah mencintai nyaaa.. dan sejujurnya mungkin hanya hitungan bulan.. selebihnya cinta dengan logika dan harapan.. jadi kalau dia bilang dia mencintai saya hanya di tahun pertama... saya hanya di bulan pertama... karena hal-hal yang saya temui setelahnya... adalah seperti menikah dengan manusia lain... berbeda dengan apa yang dikesankan selama ini. tapi, saya tidak pernah mengedepankan perasaan itu... karena? saya sudah hamil. saya akan jadi ibu... dia adalah bapak dari anak itu...
jika dia berfikir selingkuh karena dia merasa saya tidak sempurna... saya seharusnya yang lebih dahulu teriak dan kabur sedari awal sebelum dia mengucapkan akad itu atas semua ketidaksempurnaannya... hanya saja... saya tidak memilih fokus pada perasaan dan kekecewaan itu... kenapa? karena saya ingin menerapkan agama dalam pernikahan saya...
pada akhirnya saya tahu... bahwa dia tidak pernah menggenggam agama itu sepenuh hati ... sehingga saya terlalu muak ketika agama diumbarnya hanya untuk mendapatkan simpati manusia...
yes.. I fail to love and in love 💔 💔 💔 💔 💔
Selamat tinggal 10 November. cepatlah berlalu ! saya ingin sembuh dari semua luka.
-Feni-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar