Forest Side, 17 September 2023
Almost end of year 2023, ga terasa hampir 3 tahun hidup tanpa "suami" yang tidak ada role nya kecuali urusan finansial. Luka demi luka yang selalu kuberusaha untuk mengobatinya, konseling demi konseling dan obat dari hari ke hari hanya untuk membuat pikiran ini kembali normal.
Kalau difikir, kadang aku bertanya kenapa aku sampai ada di titik ini, karena kealfaan seorang laki-laki, imam yang masih menginginkan pernikahan tapi hanya memberikan luka batin besar yang melarikan diri dan tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Melupakan dan menolak untuk mengakomodasi kemarahan dan kekecewaan atas pengorbanan selama ini. Justru hanya memaksakan kehendak. Aku membuka sebesar-besarnya kesempatannya untuk tesadar tapi tak sebegitu kuat keinginannya memperbaiki dengan kembali pada komitmen awal yang dulu disepakati.
Perselingkuhan- demi perselingkuhan, kebohongan demi kebohongan, puncaknya saat seorang wanita masuk dan menginvasi saya dan tanpa membela saya, wanita yang bertahun-tahun mengawalnya dan berjuang demi keluarga. Sedih sekali tapi, apalah mampuku untuk mengembalikan dirinya yang dulu... aku tidak cukup cantik baginya, hatiku tidak cukup dipandang baik baginya. pada akhirnya, aku bahkan masih menunggu itikadnya sampai detik terakhir hingga pengajuan cerai itu terwujud. Hal yang terbayang adalah anak-anak... tapi, aku ternyata sudah berada di titik lelah untuk berjuang demi kebahagiaan orang lain dan mengabaikan perasaan dan abai dalam memberikan diri ruang untuk marah dan mengembalikan segenap kepercayaan diri.
Yang selalu diangkat olehnya adalah dua tahun terakhir ini, dimana hati telah terpaut pada seorang laki-laki dan pernah mengisi kekosongan hati. egonya jauh lebih besar dan dianggap tidak berbanding atas apa yang dia lakukan padaku selama bertahun-tahun bahkan membiarkan seorang perempuan masuk dan melempar kotoran ke mukalu, istrinya, ibu dari anak-anaknya.
tak pernahkah terfikir olehnya bahwa laki-laki itu hadir dan masuk akibat segala perbuatannya yang menciptakan ruang kosong yang sangat besar dihatiku? hilang arah dan tujuan bahkan kehilangan diri sendiri.
tak pernahkah terfikir bahwa saya hampir menguburkan diri ini, ingin menenggelamkan segala kesedihan selama ini karena terlalu lelahnya saya berusaha....
dengan segala upayaku, yang tetap ditempuhnya hanya memaksakan ego dan tetap ingkar pada ajakanku untuk kembali membangun kekuatan dan kebersamaan diatas pilar-pilar yang telah rapuh. dia tahu bahwa itu sulit, tapi pernahkah terfikir bahwa aku masih ingin berjuang dan keluar dari zona kenyamanan ego masing-masing? Saya masih punya mimpi-mimpi itu yang hadir di setiap malam, kegigihan saya menguatkan diri saya membesarkan anak-anak sendiri dan menguatkan hati bahwa akan ada taman indah untuk dinikmati bersama-sama... menemani anak-anak, bersenda gurau dan cinta di masing-masing hati sampai ajal menjemput dan menghabiskan waktu tua bersama.
Semua kini hanya abu...dan debu
Feni

Tidak ada komentar:
Posting Komentar