Forest side, 16 September 2023
Setelah sekian lama, akhirnya I'm back from hibernate. Setelah didiagnosa PTSD Di awal tahun 2020, sekarang saya harus menerima kenyataan pada akhirnya didiagnosa ADHD. Penyelesaian tesis pun akhirnya tertunda karena itu semua. Saya pun baru menyadari krn seolah saya tdk mengenal diri saya sendiri. Saya sangat anti takut, cenderung jauh lebih berani mengambil resiko. Saya pun sangat stres karena diri saya sendiri. Saya harus berjuang sendiri. Saya kehilangan fokus dan beberapa memori dimana saya harus berupaya sendiri untuk mengobati ini semua… beberapa kali saya memutuskan untuk mengakhiri diri, mulai dari menenggak semua obat tidur sampai melukai diri sendiri. Lelah berkepanjangan dan harus sendirian dalam pergumulan. Saya juga harus menghindari untuk tidak menghubungi anak2 karena amarah saya yg sangat tak terkendali. Dalam : bbrp kontemplasi saya sangat membenci diri saya untuk hal ini, karena saya secara sadar atau tidak sadar melukai anak2 saya dan merasakan apa yg bertahun2 saya rasakan. Konseling demi konseling, konflik demi konflik, saya lelah. Saya sangat kehilangan arah… yang selalu saya pertanyakan adalah mengapa semua orang yg saya investasikan kepercayaan dan harapan, mampu membuat saya berada di titik kehancuran. Menghancurkan kepercayaan diri dan semua harapan yg pernah dipupuk… memaksakan kehendaknya dan tidak mengakomodasi kemarahan dan kekecewaan saya. Mereka semua tertawa ditengah kepurukan saya dan tidak berusaha menarik, mendekat, memeluk dan menggenggam saya.
Saya tahu Allah selalu adil bahwa banyak orang yg memotivasi saya berdiri hadir namun itu tak mampu mendongakkan kepala dan kepercayaan diri saya. Anak2, suami yg adalah nafas saya selama ini seolah berhenti dan mendoktrin seolah ini adalah kesalahan saya tanpa merangkul, memberikan ruang untuk semua kesedihan, ketidakpercayaan diri dan kemarahan saya…. Hanya berfikir menyelamatkan diri dan berlari jauh dari saya. Fokus pada cita2 mereka sendiri ketika saya memimpikan semua komitmen yg dibuat dan dijanjikan terwujud kembali. Komitmen yg saat itu adalah penguat perjuangan saya sendirian dalam pengorbanan. Mereka tidak membiarkan saya hidup dengan harapan2 yg selama ini saya pupuk tapi hanya menaksakan semua kehendak2 mereka pada saya. Rasanya sangat tdk adil.
Saya dipaksa untuk memilih jalan diri saya sendiri mencari kebahagiaan, brrjalan menjauh dan menatap masa depan saya ketika mereka berusaha melepaskan dan melupakan saya dlm alur hidup…. Mereka lupa bagaimana membuat saya bahagia dan membantu mengembalikan kepercayaan diri saya.
Saya gagal sebagai seutuhnya seorang wanita.
Saya adalah saya… yg harus belajar mengutamakan kebahagiaan sendiri sebelum kebahagiaan orang lain
Feni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar